MAKASSAR, TIMURNEWS.COM – Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari berbagai daerah, saat ini penyalahgunaan narkoba juga sudah menyentuh para pekerja dan petani.

“Berdasarkan info yang saya terima dari berbagai daerah, saat ini para pekerja dan petani pun sudah menjadi korban dan pemakai narkoba. Ini harus benar-benar menjadi perhatian kita dan dilakukan upaya pencegahan. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat termasuk para tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat dibutuhkan,” kata Agus sesaat sebelum  meresmikan Lembaga Religius Spirit Insan di Makassar, Senin (15/8).

Wagub : Seluruh Elemen Harus Terlibat Atasi Masalah Narkoba
Wagub : Seluruh Elemen Harus Terlibat Atasi Masalah Narkoba

Saat ini, kata dia, di seluruh dunia paradigma terkait penanganan masalah penyalahgunaan narkoba juga perlahan sudah mulai mengedepankan langkah preventif.

“Bukan hanya menghukum, tapi juga mengedepankan upaya pencegahan,” ujarnya.

Agus menambahkan, Pemprov Sulsel juga telah mengambil peran strategis dalam hal penanganan narkoba dengan membentuk beberapa lembaga dan regulasi yang terkait dengan pencegahan dan penanggulangan narkoba dan HIV-AIDS.

“Kita di provinsi sudah membentuk Biro Napza dan HIV-AIDS, Komisi perlindungan Anak (KPA), dan juga memfasilitasi kantor BNNP dan UPTD Panti Rehabilitasi Baddoka. Selain itu juga dibuatkan regulasi baik itu Perda maupun Pergub yang terkait dengan upaya pencegahan dan penanggulangan,” paparnya.

Agus juga mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Lembaga Religius Spirit Insani (LRSI) yang membentuk lembaga atau sarana rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh LRSI ini sebagai bentuk kepedulian untuk menyelamatkan generasi bangsa dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Adanya panti rehabilitasi LRSI ini akan sangat membantu upaya penanggulangan masalah penyalahgunaan narkoba di Sulsel, apalagi panti rehab yang ada di Baddoka juga tentu memiliki kapasitas yang terbatas,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Umum Lembaga Religius Spirit Insani (LRSI) M. Yaser mengatakan, permasalahan narkoba yang semakin hari semakin kompleks menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh elemen bangsa untuk terus berbuat demi menyelamatkan generasi muda dan generasi yang akan datang dari bahaya narkoba.

“Menurut hasil riset, setiap harinya sekitar 50 orang meninggal karena narkoba. Itu belum termasuk pengguna yang tidak terdata. Ini terjadi karena masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya narkoba dan program untuk pencegahan yang belum bisa diefektifkan,” kata Yaser.

Sebagai bentuk kepedulian, kata dia, maka pihaknya membentuk sebuah wadah yang bisa turut andil untuk mengatasi masalah penyalahgunaan narkoba dengan membentuk Residence Lembaga Religius Spirit Insani sebagai lembaga rehabilitasi.

“Residen LRSI ini mengakomodasi 72 kamar dengan fasilitas memadai untuk melakukan rehabilitasi dengan melalui beberapa pendekatan legoterapi/meditasi yang kami terapkan dan dapat memberikan pemahaman tentang self proteksi yang telah didapatkan pada proses basic trip, sehingga menghasilkan manusia yg berguna pada dirinya  dan memberikan effect terciptanya lingkungan yang madani,” paparnya.

Selain itu, sebagai bentuk upaya pencegahan, LRSI juga membentuk wadah/lembaga sayap yang diberi nama Komisi Pencegahan Narkoba (KPN) LRSI yang bekerjasama dengan sejumlah kampus.

“Kita akan jadikan Residen LRSI ini sebagai contoh panti penanganan penyalahgunaan narkoba untuk Wilayah Timur Indonesia. Kita ingin bekerjasama dengan semua elemen untuk menyelamatkan generasi sekarang dan yang akan datang,” tuturnya.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel Brigjen Pol Agus Budiman M yang juga hadir dalam acara tersebut menyebut, keterbatasan sistem dan infrastruktur masih menjadi salah satu kendala upaya penanganan dan pencegahan permasalahan penyalahgunaan narkoba di negeri ini.

Apalagi, lanjutnya, permasalahan penyalahgunaan narkoba saat ini juga
sudah menyentuh berbagai kalangan.

“Bahkan hingga menyentuh para pengambil kebijakan,” ujarnya.

Untuk itu, komitmen bersama dari berbagai kalangan sangat dibutuhkan untuk bisa memaksimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba. (fo)