PENULIS : DRA. MITA LANGDEN, M.Pd

(GURU SMKN 1 TALLUNGLIPU) KABUPATEN TORAJA UTARA

REFLEKSI HASIL UJI KOMPETENSI GURU
DRA. MITA LANGDEN, M.Pd

Maaf numpang komen, guru profesional TIDAK bisa diukur dari lulus UKG, Guru Profesional kalau muridnya ada yang tembus juara lomba, olimpiade paling tidak pernah ada juara 5 besar tingkat propinsi, kalau lulus UKG bisa saja pintar tetapi pintar untuk diri sendiri, tidak profesional, sering alpa mengajar, yang diajar juga tak pernah mengerti apa yang diajarkan. ( https://www.facebook.com/profile.php?id=100005491037636 )  Sebuah  komentar di media sosial setelah artikel ‘ Guru Profesional Diukur Melalui  Uji Kompetensi Guru’dimuat di surat kabar.

Seorang guru ibarat penabur tanpa ikut menuai yang tanpa lelah, membawa benih dari ruang yang satu  ke ruang yang lain. Benih kadang terjatuh pada bangku kosong, terjungkal pada himpitan meja, terbang tersapu angan yang mengembara,namun tak sedikit juga benih yang berhasil jatuh dan tumbuh menghasilkan buah. Benih yang tertabur diukur dalam hitungan bulan dalam satuan semester, hitungan tahun dalam satuan tiga tahunan. Saman terus berubah mengikuti perkembangan teknologi. Era komputerisasi mengharuskan guru akrab dengan benda yang satu ini. Guru yang belum mempunyai kesempatan berteman dengan komputer, saat Uji Kompetensi Guru (UKG) merupakan momen paling indah untuk akrab dengan barang yang masih termasuk canggih ini.

Uji Kompetensi Guru merupakan agenda nasional dari tanggal 9 November sampai 27 November 2015.  UKG pada hakekatnya tidak mengganggu proses belajar mengajar, tempat penyelenggaraannya sudah dipersiapkan dengan baik. Hasil UKG yang langsung diketahui setelah mengerjakan soal, membuat sebagian guru merenung, jengkel, penasaran, gundah, namun sebagian juga merasa lega bahagia dan bersyukur. Standar nilai  kelayakan untuk tahun 2015 adalah 5,5.  Nilai tersebut ada yang sudah mencapai bahkan lebih tapi masih ada juga yang berada di bawah nilai rata-nata tersebut..Peserta UKG adalah semua personil yang disebut guru yang bernaung di bawah departemen pendidikan.

Usia  tidak dipersoalkan, baik yang baru tamat maupun yang sudah mengabdi selama tiga puluh dua tahun yang hampir pensiun mendapatkan soal yang sama. Menurut Widoyoko, Eko Putro ditinjau dari tujuannya ada empat macam tes yang biasa digunakan di lembaga pendidikan  yaitu tes penempatan, tes diagnostik, tes formatif, dan tes sumatif.  Untuk penenmpatan, tes dipakai untuk menempatkan seseorang pada posisi sesuai hasil tes. Untuk tes diagnostik adalah mengetahui informasi peserta tes sehingga menjadi bahan perbaikan ke depan. Tes formatif menjadi masukan tentang tingkat keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Tes sumatif diberikan di akhir suatu pelajaran atau akhir semester.

Tes UKG untuk guru-guru dilihat dari tujuannya yang ditentukan oleh pemerintah merupakan tes diagnostik yang melihat hasil tes dari setiap guru dijadikan pemetaan, kemudian ditindaklanjuti dengan pelatihan, bukan tes penempatan yang mengharuskan seorang guru dipindahtugaskan. Pada hakekatnya guru menyambut baik pelaksanaan UKG diadakan setiap tahun. Pelaksanaan UKG tahun 20015 memberikan beberapa perenungan sebagai berikut :

Butir soal membingungkan, panjang soal yang membuat lelah membacanya memberi perenungan belajar lebih giat lagi, mencari kata kunci di dalam kalimat yang tidak muncul pada awal, tengah, dan akhir  paragraf.

Materi soal yang banyak memakai bahasa asing dan bahasa politik sehingga membuat peserta tes semakin termotivasi mempelajari bahasa asing khususnya bahasa Inggris dan bahasa politik.

Materi soal tidak sesuai dengan yang diajarkan sehingga memberi motivasi bahwa bukan saja materi yang diajarkan yang dipelajari namun semua mata pelajaran yang serumpun.

Materi soal membutuhkan tingkat analisis yang tinggi, sehingga daya nalar yang sedikit tidaknya dipengaruhi faktor usia membuat peserta tes hanya  merenung dan merenung terus.

Alokasi waktu yang disiapkan tidak sebanding dengan  jumlah butir soal yang penuh perhitungan. Misalnya butir soal untuk guru yang mengampu mata pelajaran Akuntasi disiapkan butir soal sebanyak seratus nomor dengan alokasi waktu seratus dua puluh menit. Menurut Mardapi Djemari (dalam Pengukuran dan Penilaian, hal. 116) untuk butir soal kategori sukar dibutuhkan dua menit untuk mengerjakannya.

Pertemanan dengan komputer menjadi keharusan, sehingga pada saat mengikuti UKG tidak menimbulkan masalah baru. Pengalaman yang tertinggal pada teknisi di Tempat Uji Kompetensi (TUK) ada guru yang memang masih belum akrab dengan komputer, sehingga teknisi mempunyai tugas tambahan memandu sang guru menyalakan, memainkan mouse, sampai-sampai petunjuk yang muncul pada saat ujian on line terklik sembarangan, maka ujian on line selesai tanpa membuahkan yang diharapkan.

Hasil yang dicapai dalam UKG saat ini seharusnya tidak menghasilkan label baru terhadap keberadaan seorang guru. Hasil UKG yang bervariasi tidak membuat para pahlawan tanpa tanda jasa menjadi semakin tak punya arti hanya karena mendapatkan label yang tidak diharapkan. Pelaksanaan UKG di masa yang akan datang sebaiknya didahului dengan pelatihan sekitar materi yang akan muncul dalam UKG.

Semoga pelaksanaan UKG tidak menimbulkan kesalahan sistematik, yakni materi tes terlalu mudah sehingga estimasi kemampuan peserta tes yakni guru menjadi overestimated  atau tes terlalu sukar sehingga estimasi kemampuan peserta tes dalam hal ini guru  menjadi underestimated . Akhirnya sebuah lagu bukanlah lagu bila tidak dinyanyikan, seorang guru bukanlah guru bila tidak mendidik, mengajar, melatih, membimbing dan mengarahkan peserta didiknya. (*)