Refleksi Akhir Tahun Kota Makassar
Prof Marwan Mas, Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Bosowa, Makassar

Oleh Marwan Mas
(Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Bosowa, Makassar)

Geliat Kota Makassar yang sejak kampanye digagas oleh Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto dengan visi “kota dunia untuk semua”, tetapi jelang tutup tahun 2015 belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Masih banyak persoalan mendasar yang harus dilakukan, baik pada penataan lorong yang apik dan berkarakter (tata lorong bangun kota dunia),  sampah yang masih berserakan, banjir yang masih mengancam, serta masih banyaknya warga miskin yang mendorong banyaknya anak-anak muda pengangguran yang terjun ke dunia begal atau pencurian kekerasan.

Ada tiga misi yang digagas. Pertama, merekonstruksi nasib rakyat menjadi masyarakat sejahtera standar dunia. Kedua, mereformasi tata birokrasi yang tidak efektif menjadi pelayan publik kelas dunia. Ketiga, merestorasi tata kota yang tidak nyaman menjadi kota nyaman kelas dunia. Sedangkan program strategis keenam yang patut ditelisik adalah “penegakan supremasi hukum dan bebas korupsi” dengan mengubah suasana kondusif korupsi dan penegakan hukum kelas dunia.

Tentu publik merespek gagasan yang terakhir di atas, terutama karena ingin melihat Makassar bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Salah satu yang perlu dipertanyakan, apakah penyerapan anggaran dalam APBD sudah maksimal sesuai harapan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)? Sebab dalam pertemuan kepala daerah dengan Presiden di Istana Bogor sekitar Agustus 2015, rendahnya penyerapan anggaran karena kepala daerah mengeluh takut dikriminalisasi penyidik di daerah.
Macet dan Begal

Kota-kota besar di Indonesia, baik Jakarta selaku ibukota negara maupun ibu kota provinsi lainnya, telah lama terjangkit penyakit macet di jalanan. Tapi di kota Makassar, bukan hanya macet yang menakutkan, melainkan juga ancaman aksi “kejahatan jalanan” atau begal. Pengendara motor selalu was-was oleh intaian para begal yang berusia muda. Beberapa begal tewas dihakimi massa, saat tertangkap tangan melakukan begal.

Macet dan begal menjadi persoalan utama di jalan. Setiap waktu ada ancaman begal, ada mobil, sepeda motor, dan kendaraan lain bertumpuk sesak di jalan uatama Kota Makassar. Sejak pagi saat berangkat kerja dan sekolah para pelajar hingga sore hari, macet selalu membuat frustasi. Ringkasnya, sepanjang hari hingga malam terjadi kemacetan yang menyesakkan. Tidak heran jika hasil penelitian salah satu lembaga internasional menilai, bahwa Jakarta sebagai salah satu kota besar termacet di dunia.

Jika Jakarta disebut salah satu kota termacet di dunia, bukan tidak mungkin akan melanda ke kota-kota besar lainnya. Kota Makassar menjadi salah satu kota yang potensial tertular menjadi kota macet terparah. Tanda-tanda untuk itu sudah mulai menggejala. Setiap hari, terutama pada jalan-jalan protokol dan jalan di pusat perbelanjaan, macet semakin menggejala. Kalau pemerintah kota tidak cepat menemukan solusi yang efektif, tiga sampai lima tahun mendatang, Makassar mengikuti jejak Jakarta.

Jangan terlambat memikirkan moda trasportasi apa yang harus dihadirkan di Kota Makassar. Setidaknya ada solusi brilian terhadap banyaknya mobil pribadi baru dan motor baru yang setiap hari mengisi jalan Kota Makassar. Sementara jalanan tidak pernah bertambah untuk mengimbangi laju pertumbuhan kendaraan. Apakah pemerintah berani membatasi jumlah kendaraan mobil pribadi dan motor yang melintasi jalan-jalan dengan mengenakan pajak tinggi kepemilikan yang kedua dan seterusnya?

Apakah pemerintah Kota Makassar sudah mulai memikirkan moda transportasi apa yang cocok mengalihkan warga tidak menggunakan kendaraan pribadi? Memang ada mobil pete-pete, tetapi sepertinya belum menjadi solusi yang efektif. Untuk mengalihkan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi massal, memang tidak gampang. Ada persoalan gengsi dan martabat di dalamnya. Dibutuhkan kesadaran tinggi. Apalagi jika para pemilik mobil dan motor melihat transportasi massal tidak nyaman dan tidak aman. Copet dan aksi begal dari anak-anak remaja juga senantiasa mengintai.

Kemacetan tidak akan pernah dituntaskan jika tidak menangani penyebab utamanya. Para pakar transfortasi begitu banyak memberikan solusi (Koran Sindo, 12/9/2015), seperti membangun Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), dan Kereta Rel Listrik (KRL). Selaku penguna dan penikmat jalan umum selalu berharap  jalan-jalan di makassar lebih manusiawi. Tidak ada ruang kecelakaan dan ancaman begal. Publik ingin transportasi massal sebagai salah satu upaya mengurangi kemacetan, tetapi harus ada jaminan rasa nyaman dan aman dari begal, serta diperlakukan manusiawi.

Anugerah Adipura

Saat Wakil Presiden JK menyerahkan penghargaan Adipura di Jakarta (23/11/2015) menegaskan, anugerah Adipura dalam kebersihan lingkungan dapat menjadi nilai tambah bagi pemimpin daerah. Bahkan sangat berguna bagi calon petahana yang ikut dalam pilkada untuk meraih dukungan rakyat (Sinar Harapan, 25/11/2015). Makassar salah satu kota yang mendapatkan piala Adipura dan diarak keliling kota pada Selasa (24/11/2015).

Sebagaimana diketahui, Adipura adalah penghargaan tertinggi bagi kota yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Dalam sejarahnya, program adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota menjadi “kota bersih, teduh, dan sehat”. Penghargaan Adipura mengonfirmasi keberhasilan kepala daerah dan jajarannya, warga kota dan seluruh komponen masyarakat.

Saat Makassar memperoleh penghargaan yang sama tahun 2013, Piala Adipura kali ini juga diarak keliling kota. Ia disambut ratusan pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA yang memadati sepanjang jalur yang dilalui. Menurut Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, faktor yang membuat Makassar mendapat Adipura karena warga masyarakat mengikuti program pemerintah seperti MTR, Mabello, Lihat Sampah Ambil (LISA), Maju Rong, Bank Sampah, dan Lorong Garden.

Namun, di tengah antusias publik dan anak-anak sekolah yang berbaris di pinggir jalan menyambut arak-arakan Piala Adipura, beberapa media online memberitakan dengan foto sampah berserakan di beberapa tempat. Terjadi kontradiksi atas penghargaan itu. Ini patut dikoreksi sebagai bagian dari perbaikan ke depan. Ada yang merasa laksana sesuatu yang “paradoks” di tengah kegembiraan warga masyarakat mengelu-elukan Piala Adipura. Tentu tidak bermaksud menafikan hasil penilian panitia, apalagi punya kriteria tersendiri tentang hakikat kebersihan dan kesehatan lingkungan. Tetapi amat wajar jika ada warga yang merasa tidak sesuai dengan realitas.

Kabarnya penilaian untuk meraih anugerah adipura tidak hanya melihat pada kebersihan secara umum, melainkan juga pengorganisasian pemerintah daerah dengan warga masyarakat dalam menggalakkan kebersihan. Jika itu yang jadi fokus, Makassar secara formil pantas menerima Adipura, karena berbagai program kebersihan kota yang digagas Walikota Makassar.

Kata adagium “mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang meraih sesuatu”. Itulah yang patut menjadi atensi kita. Apalagi Program Strategis ke-13 Walikota Makassar  “bangun koridor hijau standar kota dunia” dengan mengubah rendahnya persentase ruang terbuka hijau kota begitu penting. Misalnya, memperbaiki koridor dan kanopi hijau, koridor bunga, central park, termasuk jalur khusus sepeda.

Adipura yang sudah di tangan bukan hanya sekadar formalitas, sebab yang amat penting adalah substansi dari sebuah kota yang bersih, teduh, sekaligus sehat. Jika pun masih ada keluhan warga lantaran melihat realitas Kota Makassar yang masih dipenuhi sampah, tidak berarti akan meluluhkan tekad kita untuk selalu hidup bersih dan sehat. Kita sambut tahun baru 2016, semoga kehidupan warga Makassar akan jauh lebih baik dan manusiawi dari berbagai aspek.(*)

Makassar, 29 Desember 2015