Oleh : Ahmad Razak
Dosen Psikologi UNM dan Da’i IMMIM

MAKASSAR, TIMURNEWS.COM – Kepolisian dalam mengemban tugas-tugasnya memang tidaklah mudah, selain bertugas memelihara keamanan, ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, kepolisian juga bertugas memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Tantangan kepolisian dalam menjalankan tugas-tugasnya kian kompleks dan membutuhkan kerja ekstra dalam penanganannya. Kepolisian dituntut bekerja secara objektif, adil dan focus pada fakta dan kebenaran. Pada sisi yang lain ia dituntut untuk mengayomi dan melindungi.

Dunia kerja kepolisian memiliki resiko dan tantangan yang berat serta tekanan (stresor) yang cukup tinggi. Tidak jarang kepolisian memeroleh cercaan, hinaan, dan berbagai stigma negatif disaat-saat menjalankan tugas-tugasnya.

Misalnya saja: dalam hal penangkapan dan penahanan oknum dalam sebuah kasus, polisi justru dianggap tebang pilih, ada motif politik tertentu serta berbagai alasan lainnya. Namun ketika polisi belum menangkap seorang oknum pelaku, justru dianggap lambat dalam menangani kasus. Sehingga kepolisian ibarat memakan buah simalakama.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa tugas dan pekerjaan dalam dunia kepolisian resisten menimbulkan resiko stres dan mustahil dapat dihindari. Sebenarnya stres pada tingkat yang rendah justru menjadi pemicu dan meningkatkan kinerja dalam menjalankan tugas-tugas dengan baik. Tetapi pada tingkat yang tinggi stres akan berdampak negative pada keadaan fisik maupun psikhis dan otomatis dapat mengganggu kinerja. Oleh karena itu diperlukan penanganan dan pengelolaan (manajemen) stres yang tepat dalam dunia kerja kepolisian.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Smruti Rekha Sahoo (2016) yang berjudul “Management of Stres at Workplace” disebutkan bahwa ada 4 langkah utama yang dapat dilakukan dalam mengelola stres ditempat kerja, yaitu: pertama lakukan identifikasi potensi stres yang ditimbulkan terkait pekerjaan atau tugas yang dijalankan; kedua ukur resiko stres yang ditimbulkan; ketiga kontrol bahaya dan resiko stres; dan keempat konsisten dan tingkatkan control secara berkesinambungan.

Manajemen stres dalam pendekatan spiritual juga disebutkan bahwa ada 4 langkah utama dalam manajemen stres di tempat kerja, yaitu pertama: bangun hubungan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta melalui ibadah dan doa; kedua bangun hubungan yang harmonis dengan relasi kerja (human relation);ketiga bangun hubungan dengan lingkungan baik lingkungan internal (organisasi) maupun eksterna (masyarakata); keempat bangun kepribadian yang baik (Kompetensi personality).

Oleh karena itu, salah satu kunci kekuatan lembaga kepolisian dalam menjalankan tugas-tugasnya ialah dengan memiliki kemampuan dalam mengelola stres di dalam dunia kerja.(*)