OLEH : Dias Amanatul Ahistasari

PENGARUH TAYANGAN TELEVISI TERHADAP PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK
Dias Amanatul Ahistasari
(Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Semester 3)

(Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP Semester 3)

Setiap orang pasti membutuhkan hiburan untuk menghilangkan penat karena aktivitas yang telah dilakukannya. Salah satu hiburan yang dibutuhkan tersebut adalah dengan menonton televisi. Televisi saat ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi. Saat ini setiap rumah pastinya sudah mempunyai televisi. Bahkan, tak jarang di setiap rumah memiliki lebih dari satu televisi.

Seorang anak khususnya dapat menghabiskan waktu lebih lama untuk menonton televisi daripada untuk belajar. Anak-anak cenderung lebih tertarik untuk menonton televisi daripada belajar. Hal tersebut, menunjukkan bahwa anak lebih banyak mengetahui dan memperoleh informasi dari apa yang dilihatnya melalui televisi dan cenderung untuk meniru hal-hal atau adegan yang ada di dalam televisi. Baik itu tontonan berupa kartun, sinetron, film, iklan dan sebagainya.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa televisi itu dapat memberikan manfaat untuk kita semua, seperti kita dapat memperoleh informasi terbaru yang terjadi di Indonesia maupun di dunia, menyediakan program pendidikan untuk anak usia sekolah, dan menambah kreativitas serta pengetahuan anak. Namun selain memberikan manfaat televisi juga banyak membawa pengaruh buruk terhadap anak. Dari televisi, anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan termasuk yang belum layak mereka tonton, mulai dari kekerasan dan kehidupan seks.

Pengaruh buruk yang dapat terjadi misalnya, anak menjadi lupa waktu; anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi; penurunan potensi akademik karena anak cenderung lebih banyak menggunakan waktunya untuk menonton televisi daripada belajar; acara yang tidak mendidik; melalaikan tugas sekolah; berpengaruh terhadap perkembangan otak; perubahan perilaku pada karakter dan mental penontonnya; menjadikan anak menjadi konsumtif karena tayangan iklan yang menawarkan berbagai macam produk; meningkatkan agresifitas dan kriminalitas; memikat dan membuat ketagihan sehingga anak menjadi malas belajar; dan sebagainya.

Permasalahan lain yang timbul adalah ketika anak-anak menonton kartun bisu, seperti Shaun The Sheep, Bernard Bear, Vicky & Johnny, Oscar Oasis, dan lain sebagainya secara berulang dan terus menerus dapat mempengaruhi kepribadian anak. Kepribadian merupakan susunan sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud meliputi kebiasaan, sikap, tata nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis. Karakter atau tokoh dalam film bisu memiliki sifat atau kebiasaan serta perilaku tertentu, jika ditonton berulang maka sifat atau perilaku tersebut yang akan ditiru oleh anak. Maka dampak paling nyata (observable) film kartun bisu terhadap kepribadian anak adalah perilaku enggan berbicara pada anak.

Acara televisi juga dapat mempengaruhi kecerdasan moral seorang anak. Misalkan, ketika seorang anak melihat suatu adegan dalam sebuah sinetron. Anak melihat pemain sinetron melakukan adegan kasar terhadap pemain lawan, seperti memukul, mencela orang yang lebih tua, berkata tidak sopan, dan lain sebagainya, ataupun sebaliknya, pemain sinetron berperilaku baik seperti, saling membantu terhadap sesama manusia, peduli terhadap orang yang tidak mampu, maupun bertutur kata yang baik terhadap orang yang lebih tua. Disinilah kontrol diri seorang anak akan teruji, apakah ia akan membuat keputusan untuk mengikuti perilaku yang dilakukan pemain tersebut atau tidak.

Film-film laga yang sering tayang di televisi saat ini juga dapat mempengaruhi kepribadian anak. Adegan yang dilakukan oleh pemain misalnya, adegan perang-perangan, berkelahi, dan lain-lain akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian si anak. Adegan-adegan tersebut dapat diikuti dan contoh oleh anak dalam kehidupan nyata. Mereka akan mempraktekannya dengan temannya dan tak mustahil apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Di dalam film-film laga tersebut memang banyak adegan kekerasan yang terjadi, sehingga orang tua harus benar-benar mengawasi anak-anaknya.

Sebaiknya orang tua harus selalu mendampingi dan mengawas anak-anaknya saat menonton televisi, agar orang tua bisa memilih mana tayangan yang baik ditonton oleh anak atau tidak. Selain itu orang tua juga harus memperhatikan waktu penayangan tontonan-tontonan acara televisi. Karena biasanya di jam-jam khusus akan ada tayangan yang khusus untuk orang dewasa. Jangan membiarkan anak menonton acara yang tidak sesuai dengan usianya. Dan sebaiknya jangan menaruh televisi dikamar anak, karena itu dapat membuat aktivitas yang seharusnya dilakukan dikamar seperti belajar jadi terganggu dan beralih ke televisi.  (*)