Hari Ananda Gani, penasehat hukum
Hari Ananda Gani, penasehat hukum

MAKASSAR, TIMURNEWS – Mustafa, sekertaris Koperasi KSU BINA DUTA yang memenangkan di dua badan peradilan, dilaporkan ke polda Sulsel beberapa waktu lalu terkait dugaan penipuan dan penggelapan terhadap pedagang pasar butung, makassar. Menindak lanjuti laporan tersebut, penyidik polda Sulsel, Rabu (11/03/20) terlihat mulai melakukan pemeriksaan terhadap terlapor.

Hari Ananda Gani, penasehat hukum terlapor di Polda Sulsel saat mendampingi kleinnya, meminta agar pelapor atau korban untuk bersabar karena saat ini proses perdata di Mahkamah Agung RI.

“Kami berharap pelapor atau korban bersabar hingga proses perdatanya selesai,” kata Hagan sapaan akrab Hari Ananda Gani.

Jika melihat proses perdata pasar butung, kata Hagan pihaknya akan menang lagi karena skor sudah 2:0. “Kita tinggal menunggu putusan MA.”

Lebih jauh Hagan menjelaskan, jika nantinya putusan MA kembali memenangkan pihaknya seperti dua putusan sebelumnya. Maka demi hukum pihaknya akan kembali menjadi pengurus dan mengelola pasar butung.

“Jika klein kami kembali mengelola pasar butung otomatis korban atau pelapor akan diberikan haknya dan langsung juga dilakukan balik nama terhadap sertifikat HGB atas nama korban,” kata Hagan. Ini sebagai bahan pembelajaran bagi pedagang di pusat grosir butung agar berhati-hati melakukan transaksi di pusat grosir butung makassar.

“Tegas saya sampaikan bahwa siapapun pemenangnya nanti di putusan kasasi Mahkamah Agung, maka wajib tunduk dan patuh terhadap putusan tersebut.

“Publik harus tahu sekarang kami sudah menang 2:0 artinya tinggal selangkah lagi kami kembali kelola pasar butung,” ucap Hagan.

Saat mendampingi kleinnya menjalani pemeriksaan di Polda Sulsel hagan juga memberi catatan khususnya untuk penyidik yang menangani perkara ini agar lebih berhati-hati melakukan proses penyelidikan terhadap kasus ini dikarenakan masalah ini ada relevansinya dengan sengketa kepengelolaan yang tidak bisa dipisahkan karena klien saya menjual kios atas nama pengelola bukan atas nama pribadi.

Adapun pihak korban dalam hal ini diwakili penasehat humumnya, Yaddi mengatan Mustafa yang merupakan mantan sekertaris koperasi KSU BINA DUTA dilaporkan ke Polda Sulsel atas kasus dugaan penipuan dan penggelapan terhadap kleinnya yang bernama Herman Messa Fattah. Dimana kata Yaddi pada bulan November 2018 terlapor mendatangi korban menawarkan harga kios sebesar Rp 400 juta. Namun korban baru menyerahkan Rp 300 juta.

Demi kejelasan status kios sertifikat yang tadinya, kata Yaddi dipegang korban diserahkan kepada notaris guna proses pembuatan akte jual beli (AJB )dan balik nama, sementara sisa pembayaran akan dilakukan 40 hari setelah AJB.

Namun baru dua bulan korban menempati kiosnya terjadi pergantian pengelola dan pengurus pasar butung. Sehingga tidak bisa diterbitkan AJB yang oleh notaris atas permintaan pengelola baru pasar butung.

“Klien kami mengalami kerugian Rp 300 juta,” kata Yaddi.

Dia juga menambahkan selain mengalami kerugian ratusan juga kios yang awalnya sudah bisa menjadi milik korban juga sudah tidak bisa ditempati karena tidak ada dasar bukti kalau sudah membeli kios itu.

“Itulah dasar kami melaporkan Mustafa karena dia yang datang langsung menawarkan ke klien kami,” tutup Yaddi. (IWAN MAPPARENTA)