Istri Kordinator Jukir Nuraeni Daeng Sunggu memperlihatkan Kartu Jukirnya ke awak media

MAKASSAR, TIMURNEWS.COM – Dua instansi di Kota Makassar, yakni Dinas Perhubungan (Dishub) dan PD Parkir Makassar Raya menyebut para juru parkir (Jukir) yang ada di terowongan Mall Panakukkan (MP) merupakan jukir liar. Alasannya badan jalan sepanjang MP atau lokasi beroperasi para jukir ini adalah wilayah larangan parkir, sehingga itu tidak dapat dimanfaatkan atau digunakan sebagai lahan parkir.

Ditemui dikantornya oleh Timuranews.com Humas PD Parkir Makassar Raya Sri Suhartini, Rabu (15/05/2019) mengatakan jukir yang ada di terowongan MP tidak dilengkapi dengan identitas pengenal diri dari PD Parkir Makassar Raya dan mereka juga tidak diberikan karcis kendaraan karena mereka bukan jukir resmi.

“Mereka tidak memeliki identitas,” kata Sri.

Agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan kemacetan pihak PD Parkir terus melakukan pengawasan pada lokasi yang dimaksud, namun tidak bisa maksimal memberantas keberadaan jukir liar ini.

“Kami sudah berulangkali mengawasi keberadaan mereka, bahkan melibatkan pihak kepolisian, tetapi disaat kami tinggalkan lokasi mereka muncul lagi. Jadi sangat sulit menghilangkan keberaan para jukir liar ini.” jelas Sri.

Sementara, Nur Eni Daeng Sunggu istri dari koordinator jukir terowongan MP Ridwan Daeng Ago. Keberatan jika anggota dan usaha yang dikelolanya disebut liar karena semua anggotanya yang jadi jukir terdata di PD Parkir Makassar Raya hal tersebut dibuktikan dengan sejumlah kartu identitas yang dimiliki para jukir di terowongan MP dan karcis termasuk anggota jukir kami yang meninggal dunia dua tahun yang lalu mendapatkan santunan dari PD Parkir Makassar Raya sebanyak 25 juta.

“Kami bukan jukir liar, ini buktinya semua anggota yang jadi jukir di terowongan MP memiliki kartu identitas dan diengkapi karcis,” kata Eni.

Dia juga mengatakan setiap sore ada oknum dari PD Parkir yang datang menagih iuran parkir pada pihaknya.

“Jadi tidak ada alasan kami dikatakan jukir liar, karena kami dilengkapi identitas dan membayar kewajiban tiap sore,” tegasnya.

Usaha perparkiran yang dikelola suaminya, kata Nur Erni sudah dijalankan sejak 2017 lalu hingga kini,

Dia menambahkan keberadaan para jukir di terowongan MP juga tidak pernah mendapatkan protes dari pihak pengelola MP.

“Kami baru beroperasi (parkir) jam 11 siang, setelah parkiran MP full,” kata Nur Eni. (Iwan Mapparenta)