Penulis : Ira Kholifah, Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta  

Guru Profesional, Menjadikan Belajar Siswa Lebih Bermakna
FOTO : IST

Pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Banyak orang beranggapan bahwa sekolah itu hanya kegiatan menghafal. Jelas bahwa kegiatan di sekolah, mau tidak mau harus menghafal karena pada akhirnya nilai yang diperoleh dari siswa tersebut diambil dari nilai tes atau nilai ujian akhir dari pelajaran yang sudah guru berikan. Memang di Sekolah  kebanyakan hanya teori-teori saja yang diajarkan dan sedikit praktiknya.

Siswa sendiri bisa dianggap hanya sebagai mesin foto kopi yang harus menghafal berlembar-lembar dan juga siswa hanya disuruh mendengarkan guru berbicara saja. Siswa tidak diajak ikut berpikir bagaimana cara untuk mengembangkan hidup dari pelajaran yang mereka pelajari. Hal tersebut yang menjadi penyebab dimana situasi membosankan melanda siswa.

Dalam bentuk apapun pihak sekolahmemberikan pengajaran yang berbeda—beda, baik itu teori maupun praktiknya, tetapi semua itu tidak akan menjadi masalah serius jika Gurunya dapat bekerja secara profesional. Karena guru yang berprofesional itu mempunyai 4 ciri yang telah dijelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUDG) pasal 10 ayat 1, antara lain yang pertama adalah mempunyai kompetensi Pendagogik yaitu maksudnya menyangkut kemampuan mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran yang dimaksudkan tidak terlepas dari tugas pokok yang harus dikerjakan guru.

Tugas-tugas tersebut menyangkut : merencanakan pebelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil pembelajaran. Selain tugas pokok dalam pengelolaan pembelajaran, guru melakukan bimbingan dan latihan dalam kegiatan ekstrakulikuler, serta melaksanakan tugas tambahan yang diamanahkan oleh lembaga pendidikan. Yang kedua yaitu mempunyai kompetensi kepribadian, maksudnya adalah menyangkut kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, beribawa dan menjadi teladan bagi peserta didik.

Kemudian yang ketiga mempunyai kompetensi profesi, yaitu menyangkut penguasaan materi pelajaran secara luas  dan mendalam. Sebagai tenaga pendidik dalam bidang tertentu sudah merupakan kewajiban untuk menguasai materi yang menyangkut bidang tugas yang diampu. Apabila seorang guru tidak menguasai materi secara luas dan mendalam, bagaimana mungkin mampu memahami persoalan pembelajaran yang dihadapi di sekolah. Oleh karena itu, untuk menjadi profesional dalam bidang tugas yang diampu harus mempelajari perkembangan pengetahuan yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dan yang keempat mempunyai kompetensi sosial, yaitu menyangkut kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik, sesama guru, wali murid, dan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi dengan baik merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupan. Komunikasi dan interaksi yang diharapkan muncul antara guru dengan siswa berkaitan dengan interaksi yang akrab dan bersahabat. Dengan demikian diharapkan peserta didik memiliki keterbukaan dengan gurunya.

Dari ciri-ciri dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUDG) pasal 10 ayat 1tersebut jika saja sudah dimiliki oleh semua guru. Maka tidak ada keluhan dari peserta didik. Karena apabila belajar hanya dimaknai sebagai kegiatan menghafal materi saja, maka jelas bahwa hasil akhir dari proses belajar tersebut kurang maksimal. Disitu siswa biasanya hanya menghafal materi saat ujian tiba. Setelah ujian selesai, para siswa sudah mulai lupa. Jadi sia-sialah ilmu yang sudah diberikan sang pendidik.

Namun, apabila mengajar diartikan sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajar pada siswa tentu dari tujuan yang telah dirumuskan akan bisa tercapai. Artinya guru dengan sengaja benar-benar mengajar siswa supaya siswa dapat memahami setiap proses belajar tersebutdan tujuan dari pendikan dapat tercapai dengan maksimal. Memang untuk menjadi seorang guru tidak semudah yang dibayangkan.

Menjadi guru itu perlu mengetahui dan memahami sifat masing-masing siswa. Dimana  di dalam kelas itu tidak semua siswa dapat dengan mudah menyerap materi yang diberikan, tetapi ada juga yang sulit menerima materi pelajaran. Mungkin dari siswa di kelas ada yang cukup diberikan penjelasan, siswa sudah dapat menyerap materi pelajaran tersebut, ada juga yang memerlukan media untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran.

Tetapi dengan memahami sifat-sifat siswa yang berbeda itulah, guru harus mempunyai strategi-strategi baru supaya bagaimana caranya siswa tersebut bisa menerima materi dengan baik dan bisa benar-benar memahaminya. Siswa mendambakan sosok guru yang bisa menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan bisa menata pembelajaran sebaik dan menyenangkan.

Seperti halnya yang telah dijelaskan pada Teori konstruktivisme. Pada teori ini mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi” atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.

Dengan demikian, guru profesional merupakan guru yang bisa menjalankan proses kegiatan  belajar mengajar seperti halnya menurut teori konstruktivisme yang lebih menekankan pada proses belajarnya daripada hasil, karena belajar bukanlah sekadar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan setiap individu.

Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat dalam setiap individu. (*)