Grab

TIMUR NEWS – Kehadiran taksi online seperti grab dan gojek tentu membuat persaingan industri transportasi semakin ketat, akibat kehadiran transportasi online khususnya Grab sangat merugikan usaha transportasi taksi lokal. Sehingga Grab dijatuhi denda US$200 ribu atau Rp2,9 miliar.

Denda ini diberikan di Negara Vietnam, Grab dianggap melanggar aturan bisnis transportasi di Negara itu.

Vinasun yang merupakan perusahaan taksi besar di Vietnam, menggugat Grab, ke Pengadilan Ho Chi Minh City Mei 2017 lalu dengan tuntutan denda penuh Rp26,2 miliar kepada pengadilan, namun lembaga peradilan itu cuma menjatuhkan denda Rp2,9 miliar kepada Grab.

Putusan pengadilan menjatuhkan denda kepada Grab jauh dari tuntutan yang diinginkan Vinasun yang mengeluh dan merugi, kehilangan US$1,8 juta atau Rp26,2 miliar sejak Grab masuk ke pasar Vietnam pada 2013.

Dalam laporan Theaseanpost, Senin 31 Desember 2018, juru bicara Kementerian Kehakiman Ho Chi Minh City berpendapat Grab hadir di Vietnam dan menyebabkan kerugian Vinasun.

Putusan yang dinilai jauh lebih renda dari tuntutan, alasan yang disampaikan pihak pengadilan Vinasun mengalami kerugian akibat hadirnya layanan Grab tapi kurang didukung dengan bukti konkret.

Putusan pengadilan lokal Vietnam itu mendapat respons minus dari Grab dan pelaku industri transportasi daring di Vietnam.

Head of Grab Vietnam, Jerry Lim menilai putusan pengadilan merupakan preseden buruk dan sebuah langkah mundur dalam membangun industri transportasi di Vietnam. Lim menyayangkan langkah Vinasun yang antikompetisi dan memilih menggugat Grab untuk menutupi kerugian yang mereka alami.

Lim menilai, tak ada hubungan sebab akibat secara langsung hadirnya Grab dengan kerugian yang diderita Vinasun.

“Ini adalah langkah mundur bagi pengusaha dan talenta teknologi Vietnam,” kata dia.

Untuk itu, Lim mengatakan, Grab tak tinggal diam. Perusahaan mempertimbangkan pengajuan banding atas putusan pengadilan tersebut. (Int)