FENOMENA MENJAMURNYA ANAK JALANAN
Atin Khumaila,

OLEH : Atin Khumaila

(Mahasiswa)

Bila kita lihat disekitar kita, hampir disetiap sudut jalan, pertigaan, perempatan, dan simpang lima jalan disitu pasti selalu saja ada anak jalanan.  Entah itu siang atau malam hari, mereka tidak pernah absen untuk turun ke jalan. Apalagi kalau ada acara konser atau acara-acara tertentu, disitu pasti terdapat banyak anak jalanan yang datang kesitu.

Jelas bukan tanpa alasan mereka beraktivitas dijalanan. Ada yag sekedar karena kepuasan dengan tren kumpul-kumpul para anak jalanan lainnya dengan gaya punkernya, ada yang mengais rezeki dari kumpulan uang recehan, ada juga yang sekedar ingin terjun ke jalanan karena gaya hidup yang bebas. Pada umumnya anak jalanan ini berasal dari keluarga yang ekonominya lemah tetapi ada juga yang berasal dari keluarga yang ekonominya tinggi.

Anak jalanan biasanya tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang dari orang tua karena broken home, sehingga itu memberatkan jiwa dan pikiran sehingga membuat anak tersebut berperilaku negatif. Biasanya mereka  ada yang tinggal dikota setempat, dikota lain terdekat, atau diprovinsi lain.

Ada anak jalanan yang ibunya tinggal dikota yang berbeda dengan tempat tinggal ayahnya karena pekerjaan, menikah lagi, atau bercerai. Ada juga anak jalanan yang masih tinggal bersama keluarga, ada juga yang tinggal berpisah dengan keluarganya dan ada juga yang sama sekali tidak pernah tinggal bersama keluarganya atau bahkan ada anak yang tidak mengenal keluarganya.

Kehidupan yang tidak sehat selalu menjadi santapan anak jalanan setiap harinya, namun sangatlah jarang masalah seperti ini terekspos oleh publik. Oleh karena itu, tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa anak jalanan senantiasa berada dalam situasi yang mengancam perkembangan fisik, mental/psikis, dan sosial bahkan nyawa mereka setiap saat.

Motif aktivitas anak jalanan menjadikan masalah baru dikemudian hari, layaknya bom waktu yang akan menghambat kesejahteraan negeri ini. Pertama, aktivitas anak jalanan hanya sekedar mengikuti trend kehidupan jalanan. Misalnya gaya punker, anak akan lebih mudah meniru dan tergiur untuk mengikutinya.

Kegiatan yang hanya nongkrong dikeramaian, tidur disembarang tempat, ngamen, bebas tanpa tanggung jawab dll. Bisa dibayangkan apabila kedepan anak jalanan tambah berjubel dikota-kota besar, dan anak lebih memilih hidup dijalanan ketimbang hidup secara normal dirumah. Kedua anak jalanan yang mengais rezeki dengan mengumpulkan uang receh.

Aktivitas ini yang menjadi rentan, karena anak lebih memilih mencari uang dari pada belajar atau sekolah. Anak jalanan lebih memilih dan lebih senang mendapatkan uang dari pada harus bersusah payah belajar atau bersekolah yang notabene membutuhkan biaya yang mahal. Padahal

sejatinya anak-anak merupakan calon generasi penerus bangsa, namun keberadaan anak jalanan yang semakin berjubel merupakan suatu tanda yang kurang baik sebagai kualitas generasi muda negeri ini.

Ironisnya, anak jalanan ini sering menjadi korban orangtua yang dengan sengaja memperkerjakan mereka untuk menambah penghasilan keluarga. Ketiga, pilihan anak terjun kejalanan karena ingin hidup bebas, dan tidak bisa dipungkiri lagi, kehidupan anak jalanan adalah kehidupan sebebas-bebasnya.

Kalau sudah begini, lantas siapa yang harus disalahkan? Yang jelas disini, semua pihak mesti bertanggung jawab, baik orang tua, anak, LSM, dan pemerintah setempat. Orang tua disini mestinya lebih memberikan pengayoman kepada anak, penghidupan yang layak, menjaga kehidupan keluarga yang harmonis dan tentunya orang tua lah yang mesti bertanggung jawab untuk menghidupi segala kebutuhan perekonomian keluarga.

Bukan malah anak yang diberdayakan turun kejalan untuk mengais uang recehan. Orang tua harus lebih tegas dalam memberikan arahan kepada anak, supaya anak tidak mudah terjerumus dalam kehidupan jalanan. Metode penanganan yang mesti diambil oleh pemerintah harus lebih bisa diterima oleh anak jalanan yaitu bagaimana anak jalanan supaya merasa lebih diperhatikan, diberdayakan, dididik, dan dilatih untuk hidup mandiri dengan segala keterbatasan keadaan ekonomi yang melilitnya. Bukan hanya

sekedar dijaring oleh Satpol PP, didata, dibina, tanpa menilik akan hak-hak anak jalanan dan pola kehidupan yang pada umumnya membutuhkan keceriaan dan pemenuhan akan kebutuhan hidupnya. Tentunya juga tanpa menanggalkan esensi pendidikan, karena anak pada umumnya masih mampu mencerna pelajaran dengan mudah.

Keberadaan rumah singgah disini sangatlah dibutuhkan. Dengan dijadikanya sebagai tempat perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan yang kerap menimpa anak jalanan dari kekerasan dan perilaku penyimpangan seksual ataupun berbagai bentuk kekerasan lainnya. Selain itu upaya rehabilitasi untuk mengembalikan dan menanamkan fungsi sosial anak. Rumah singgah juga dapat dijadikan sarana akses berbagai pelayanan sosial seperti pendidikan dan kesehatan. Lokasi rumah singgah harus berada ditengah-tengah masyarakat agar memudahkan proses pendidikan dini, penanaman norma dan resosialisasi bagi anak jalanan. (*)