Penulis :

Efek Donald Trump, "Kebingungan" Landa AS
Derek Manangka

Steve Bannan seorang Anti Islam Jadi Direktur Strategis Gedung Putih

JAKARTA – Hingga Lebaran Kuda, Amerika Serikat tak akan pernah mengakui bahwa server dan sistem penghitungan suara Pemilihan Presiden 2016 negara ini, diretas oleh agen rahasia Rusia yang berperan sebagai ahli Teknologi Informasi.

Peretasan mana telah membuat suara pemilih lebih banyak berbelok ke kandidat Partai Republik sekaligus membuat Donald Trump terpilih sebagai Presiden AS yang ke-45.

Padahal sebelum Pilpres digelar, tidak kurang dari 250 lembaga jajak pendapat di seantero AS yang mensurvei para pemilih, semuanya menjagokan Hillary Clinton.

Bahkan dikatakan kalau Trump menang, indeks saham di bursa Wall Street akan turun drastis.

Atas dasar itu, sebelumnya ada yang menganggap Pilpres 8 Nopember 2016 lalu itu hanya sebuah formalitas pesta demokrasi melengkapi perayaan kemenangan Hillary Clinton.

Tidak keluarnya pengakuan tersebut, masuk akal. Sebab pengakuan hanya akan bermakna sebuah kekalahan besar Amerika Serikat terhadap Rusia, negara pecahan bekas Uni Sovyet. Namun tanpa pengakuan, kekalahan ini diperhitungkan akan terus menjadi sebuah “liability” bagi Washington.

Rusia sekalipun merupakan negara yang baru berdiri 25 Desember 1991 – sementara AS yang sudah lahir sejak 240 tahun lalu (1776), sejak awal sudah dicatat sebagai musuh yang diperhitungkan Amerika Serikat di segala bidang.

Posisi Rusia sebagai musuh AS makin mengental ketika negara ini pada tahun 1999, mulai dipimpin oleh Vladimir Putin. Putin tidak sama dengan pendahulunya seperti Boris Yeltsin atau Mikhail Gorbachev yang terkesan lembut terhadap Amerika Serikat.

Mantan agen rahasia KGB ini sebaliknya terkesan sangat resisten terhadap Amerika Serikat. Sikap resisten mana mengingatkan persaingan sekaligus permusuhan antara KGB dengan lembaga dinas rahasia Amerika Serikat, CIA.

Permusuhan kedua negara semakin mengkristal ketika Ukraina, salah satu negara baru pecahan Uni Sovyet dilanda perebutan kekuasaan tahun 2014.

Viktor Yanukovych, Presiden dukungan Rusia digulingkan oleh tokoh yang pro Amerika Serikat, Oleksandr Turchynov. AS versus Rusia 1 : 0.

Kekalahan Rusia tahun itu juga dibalasnya dengan menganeksasi Krimea, sebuah pelabuhan strategis yang menjadi pangkalan militer terkuat di Eropa yang tadinya bagian dari Ukraina.

Keberhasilan Rusia di Krimea, merupakan sebuah kegagalan AS di Eropa. Gagal dalam mengerem pengaruh Rusia.

Referendum yang digelar di Krimea dan diinisiasi Rusia menghasilkan mayoritas masyarakatnya memilih pisah dari Ukraina dan menjadi bagian dari Rusia.

Akibat kasus kudeta di Ukraina dan pemisahan Krimea, kedua negara dalam dua tahun terakhir ini terlibat dalam “Detente” atau Perang Dingin Baru.

Rusia saat ini sedang menjalani sanksi perdagangan oleh dunia internasional. Sanksi itu muncul berkat lobi Amerika Serikat.

Menegok ke beberapa tahun sebelumnya, sebelum Pilpres 2016 dan kasus Ukraina dan Krimea, pada tahun 2013 seorang ahli komputer yang bekerja untuk CIA, Edward Snowden, melakukan disersi ke Rusia. Snowden diyakini membawa sejumlah rahasia termasuk sistem digital dan komputeraisasi di Amerika.

Kedua negara juga masih berseteru di Syria. Rusia membela pemerintahan resmi pimpinan Bashar Assad, sementara AS mau menggulingkannya.

Latar belakang permusuhan dua negara ini, tidak menjadi isu utama dalam kampanye Pilpres antara Donald Trump dan Hillary Clinton. Sehingga tidak mudah menjelaskan atau mengaitkan permusuhan ini dengan Pilpres 2016.

Kendati begitu, sikap Donald Trump terhadap Rusia, bisa menjadi indikator. Bukan sekali saja Trump memuji Vladimir Putin sebagai pemimpin. Trump juga membandingkan kepemimpinan Putin dengan Presiden AS Barack Obama. Menurut Trump, Putin lebih baik dari Presiden AS Barack Obama.

Gara-gara pujiannya tersebut George Bush senior, mantan Direktur CIA dan juga Presiden AS selama 1989 – 1993, marah dan berjanji tidak memilih Trump. Padahal Bush sama dengan Trump berasal dari Partai Republik.

Latar belakang permusuhan ini setidaknya memberi perspektif bahwa masuk akal kalau Rusia berkepentingan merusak Pilpres AS. Merusak melalui operasi spionase.

Sebaliknya sekalipun tidak mengakui, media raksasa sekaliber CNN, terus berusaha mengorek apa yang menyebabkan Donald Trump keluar sebagai pemenang atas Hillary Clinton. Apalagi Clinton sebetulnya menang dalam populer vote.

Minggu malam 13 Nopember 2016, CNN misalnya menghadirkan R. James Wosley mantan Direktur CIA. Forum itu membahas soal keanehan-keanehan yang menyelimuti kemenangan Donald Trump.

Wosley misalnya ditanya apakah dia melihat adanya keterlibatan Rusia dalam Pilpres 2016.

Wosley yang memimpin CIA di tahun 1990 terkenal dengan ucapannya yang sangat multi tafsir tentang Uni Sovyet ataupun Rusia.

“Kita telah berhasil melukai naga, tetapi naga itu sekarang hidup ditengah hutan yang penuh dengan ular berbisa”, ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Wosley saat Uni Sovyet terpecah belah yang menghasilkan lahirnya sejumlah negara baru. Sekaligus mengkahiri Perang Dingin yang melibatkan Amerika Serikat – Uni Sovyet dalam kubu yang berseberangan.

Wosley yang saat ini menjabat sebagai penasehat khusus kubu Donald Trump, sangat taktis menjawab pertanyaan CNN, salah satu media yang mengunggulkan Hillary Clinton.

Ia hanya menjawab bahwa dalam dunia spionase, rumus yang berlaku adalah kita tidak hanya bekerja sama dengan pihak kawan, tetap terkadang harus dengan lawan.

Ketika didesak apakah dia melihat ada unsur luar yang mempengaruhi hasil Pilpres 2016, Wosley hanya menjawab “tidak tahu”.

Tidak puas dengan Wosley, CNN yang terus memberitakan protes anti-Trump sebagai hal yang sudah meluas ke seluruh kota besar di AS.

“Selama empat hari berturut, protes anti-Trump sudah meluas ke berbagai kota besar Amerika. Mereka menolak Trump sebagai Presiden dan dalam protes itu ada yang dilakukan melalui pemblokiran jalan-jalan lintas negara bagian”, tutur presenter Jonatan Mann.

CNN juga menghadirkan Nata Silver, Pemimpin Redaksi media bernama “FiveThirtyEight”.
Alasannya, hanya media ini yang merilis sebuah survei sebelum Pilpres bahwa Donald Trump mengumpulkan suara 71,6%.

Nata Silver menganggap survei yang dia gelar itu, asli dan bisa dipertanggung jawabkan. Hanya saja ia sempat bingung, karena semua survei, sejak awal sudah berpihak kepada Hillary Clinton.

Perkembangan lainnya, Donald Trump dikabarkan mendesak harian “The New York Times” untuk meminta maaf. Karena pemberitaan harian ini, termasuk ketika kemenangan Trump sudah final, tidak obyektif dan tak sesuai kaidah jurnalistik.

Gara-gara desakan Trump, kredibiltas harian yang didirikan tahun 1851 ini tercoreng dan cenderung jatuh tingkat kepercayaan masyarakat pembacanya.

Tercorengnya kredibilitas harian terpandang ini berpengaruh kepada tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media-media setempat.

Padahal harian ini dikenal sangat kredibel dan menjadi rujukan untuk berbagai peristiwa terkini. Kredibiltasnya terbangun antara lain karena telah memenangkan hadiah “Pulitzer” sebanyak 100 kali. Harian ini juga memiliki 15 buah suratkabar di seluruh Amerika Serikat.

Selain menyoroti sikap Trump terhadap “The New York Times”, CNN juga menyinggung berbagai keanehan dan persoalan yang dihadapi Presiden terpilih.

Misalnya pertemuan Trump – Obama di Gedung Putih sehari setelah Pilpres.

“Pertemuan itu tadinya hanya direncanakan selama 10 menit. Tapi entah mengapa bisa berlangsung selama 90 menit. Mungkin banyak persoalan yang dikemukakan oleh PresidenObama – hal yang tidak diantisipasi oleh Trump”, kata CNN.

Media ini juga mempertanyakan apakah Trump bisa mengisi 4000 jabatan yang akan dikosongkan oleh Presiden Obama, begitu yang terakhir ini mengakhiri tugas kepresidanannya pada 20 Januari 2017.

“Tidak mudah bagi Trump mencari orang-orang yang tepat sementara berhasil tidaknya negara ini ke depan tergantung pada kemampuan dari 4000 personel ini”, lagi-lagi kata CNN.

Yang terbaru, Trump disorot karena mengangkat Steve Bannan sebagai Chief of Strategist, mendampingi Reince Pierbus sebagai Chief of Staff.

Bannan, dikhawatirkan akan melanjutkan kebijakan Trump yang anti-Imigran, anti-Islam dan anti-kebhinekaan.

Intinya media ini melaporkan bahwa kebingungan yang cukup luas di negara adi daya ini sedang meluas pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden.
Belum dapat diperkirakan apakah efek Donald Trump benar-benar bisa memecah Amerika Serikat. (*)