MAKASSAR, TIMURNEWS.COM – Di antara kandidat yang maju dalam Munaslub Golkar, sekadar menegaskan fakta, jika diletakkan pada persoalan leadership dan kompetensi figur, sosok Syahrul Yasin Limpo (SYL) tidak kalah berkilau dengan para kandidat lainnya.

Hal ini jelas terlihat secara meyakinkan dari apa yang ditunjukkan SYL dalam rangkaian seri debat publik kandidat yang digelar terbuka.

Secara idealis, sosok SYL telah mencuri perhatian publik. Dari debat kandidat tersebut, SYL menunjukkan visi dan strateginya, selain pengalaman leadershipnya, terkait integritasnya, dan tidak kurang nilai dari gaya komunikasi politiknya. Sayangnya, dalam perhelatan Munaslub tidak hanya faktor kualitas figur dan intergritasnya yang jadi pertaruhan.

Dari sudut yang cukup gelap di sana, ada faktor-faktor lain yang menentukan. Diantaranya kekuatan finansial. Dari sudut gelap itu, SYL memiliki kelemahan. Tetapi, justru keterbatasan menggunakan kekuatan itu yang dijadikannya sebagai daya tarik.

SYL pun mengakui hal tersebut dan hanya berharap pada efek idealisme atau moralitasnya.

Menjelang terminal akhir penentuan pilihan suksesi partai beringin itu, tersisa pertanyaan, “apa yang akan terjadi pada pencalonan SYL?”

Kalau merewind perjalanan sebagai kandidat menuju Munaslub, sebenarnya SYL telah menunjukkan diri sebagai seorang “pemenang” dalam pertarungan.

Ketika muncul deretan figur bakal calon, hingga saat pendaftaran resmi, SYL adalah figur satu-satunya dari luar DPP. Secara simbolik, suka tidak suka, seluruh DPD Golkar tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota patut mengakui dan bangga dengan apa yang dilakukan SYL.

SYL merintis tradisi baru sebagai repesentasi daerah menjadi caketum DPP. Suatu fenomena menarik, seorang politisi lokal Ketua DPD oleh bakal calon yang pengurus DPP, menjadi sebuah episentrum.

Ketika para bakal calon melakukan lobby, bahkan ketika harus ke Makkassar sekalipun, hingga ketika debat publik terjadi, seorang figur respesentasi DPD terhadap figur DPP, menjadi magnet politik. Tak cuma konten, namun juga gaya leadershipnya.

“Kemenangan” SYL yang lain adalah masuk dalam bursa pencalonan tanpa mahar. Sebelumnya, terbayang ia akan terganjal, karena menolak membayar mahar 1 milyar.

Bukan karena idealisme semata, juga karena resiko berbeda untuk dibandingkan dengan calon lain yang tak berlatar birokrasi pemerintahan.

Mungkinkah elite dan peserta Munaslub akan menggunakan nalar dan mata batin untuk menentukan nasib dan takdir politik Golkar di masa yang akan datang?

Berkali-kali SYL menegaskan ikut menjadi calon karena ingin membesarkan golkar, merajut kebersamaan, dan mengembalikannya sebagai partai besar.

Publik pun dapat belajar dari idealisme politik itu. Sayangnya, untuk mencapainya hanya bisa jika masuk ke dalam struktur. Meski untuk masuk ke struktur, tidak harus sampai ke titik pertaruhan akhir.

Tanpa menjadi Ketua Umum, sebenarnya idealisme itu dapat diwujudkan. Namun, sulit jalan terbuka dan hanya akan menjadi absurditas, jika tidak masuk dan bergerak dalam struktur inti atau sentral.

Pilihan tersedia, SYL dapat tetap maju, dengan tujuan merebut puncak struktur sentral (Ketum DPP), meskipun dengan resiko “kalah numerik” namun menang secara esensial.

SYL dapat tetap maju dengan memenangkan idealismenya yang mewakili tidak sedikit komponen voters Munaslub. Meskipun tak tergapai secara voting, namun secara simbolik SYL sesungguhnya sudah menjadi “pemenang”.

SYL memenangkan prinsipnya dari awal sebagaimana sikapnya ketika menghadapi tuntutan mahar politik. Ia hanya bertaruh atas modal utamanya, yaitu idealisme.

Pilihan lain adalah, SYL mungkin memilih mundur, yang berarti memilih untuk “memenangkan” kontestasi melalui cara lain. Meskipun pragmatis, namun membawa harapan idealisme yang di pertaruhkan dalam lingkaran langkah DPP ke depan.

Jika pilihan ini yang diputuskan, ia akan terhadang dengan resiko jika keliru dalam afiliasi, karena esensi pilihan ini bukanlah langkah “bunuh diri” atau “tutup buku”, tetapi akses politik jangka panjang. Tak hanya untuk kepentingan Sulsel, namun Indonesia.

Mengutip sesentil suara harapan di sebuah WAG, Apapun ending Munaslub Beringin, setidaknya Sulsel dan Timur Indonesia, bahkan sebagian suara Nusantara telah dibuat bangga dengan langkah dan performa SYL dalam Munaslub. SYL punya tempat pulang yang hangat dan siap menyambutnya dalam “kekalahan” apalagi jika itu sebuah “KEMENANGAN”. (*/fo)