Memiliki buah hati dengan perlakuan berbeda dengan anak pada umumnya tentu menjadi kecemasan bagi orang tua. Apalagi jika anak mulai tumbuh dewasa. Anak yang memperlihatkan perilaku diluar kewajaran biasanya anak yang perna diagnosa mengakami Autism Spectrum Disorder (ASD).

Seperti halnya dialami salah satu peserta diskusi yang diadakan dalam forum Forkasi Makassar. Salah seorang peserta anaknya mulai mandiri diusia 12 tahun namun anak tersebut sering marah-marah, loncat-loncat dan tutup telinga saat berada di rumah.

Nah, bagaimana menangani anak tersebut? berikut pejelasan Waskito Budi Ari Bowo, RPT, RMT.

Anak dengan diagnosa anak ASD. Biasanya pada kasus-kasus tertentu anak dengan kondisi Autism Spectrum Disorder hampir semua kasus anak ASD ini adalah mengalami gangguan fungsi sensorinya baik itu hipersensitif sensori maupun hipotensi sensori.

Hipersensitif sensori, misalnya anak menolak stimulus-stimulus yang masuk, dari stimulus yang masuk direspon oleh otaknya berlebihan sehingga tidak mampu mendiskriminasi sehingga anak menolak dan menghindari stimulasi tersebut atau menolak aktivitas tersebut.

Misalnya jika berbicara tentang hipersensitif vestibular ada anak yang takut dengan ketinggian, kemudian kontrol motorik yang belum bagus sistem keseimbangan juga belum bagus, kemudian pada area taktil dicontohkan dengan anak tidak suka menggunakan baju baru atau ada labelnya, kemudian tidak suka menggunakan topi tidak suka bersisir tidak suka mandi atau makan hanya menggunakan atau menyukai tekstur tertentu saja dan sebagainya.

Kalau berbicara stimulus simulasi ada area utama seperti vestibuler profil serviks dan kemudian sistem sensori yang lain yaitu visual auditori satori dan sensitif sensori berarti bahwa stimulasi yang masuk ke otak direspon masih kurang sehingga anak mencari stimulus terus misalnya anak suka mondar-mandir tidak takut bahaya tidak takut ketinggian, terus kemudian mencari sentuhan kuat.

Kebutuhan geraknya yang tinggi maka dengan tekstur yang keras dan sebagainya itu adalah anak hipersensitif yang sensori yang selalu dari stimulus dan kemungkinan pada anak 12 tahun ini karena tidak mampunya menterjemahkan stimulasi yang masuk ke otaknya dan tidak mampu mengartikan simbol-simbol tersebut sehingga mengalami yang namanya overload di fungsi sensor di otaknya.

Terjadinya overload maka yang muncul adalah anak seperti marah-marah sendiri bisa diwujudkan dengan menyakiti diri sendiri bisa dengan agresi menyerang atau merusak benda atau menyerang orang lain hal-hal semacam ini yang harus kita cari adalah, penyebabnya, apa yang menyebabkan anak ini timbul amarahnya, timbul emosi tingginya.

“Kita cari apakah anak ini kita lihat dari sensory profilnya,” kata Budi Ari.

Apakah anak cenderung hipersensitif taktil atau vestibule atau Vio atau visual auditori dan sebagainya ataukah anak hipersensitif taktil profil kemudian vestibuler visual auditori dan sebaiknya, jika kita menemukan anak dengan kondisi hipotensi diprinter yang mana tadi sudah dijelaskan, bahwa anak membutuhkan stimulus maka jangan pernah kita melarang anak melakukan sesuatu misalnya ketika anak berdiri ketika anak mau berjalan bergerak kita sudah selalu menstimulus harus dengan posisi duduk yang baik duduk yang tenang dan sebagainya sehingga ketika kebutuhan sensori tidak terpenuhi maka terjadilah ledakan emosi dari dalam anak tersebut.

Padahal pada anak-anak dengan kecenderungan hipersensitif sensor ini harus kita cukupkan sensor stimulusnya.

Cukupi apa yang dia cari tentu saja stimulus-stimulus dengan aktivitas yang artinya positif dan bertujuan dan tercukupi secara rutin diberikan secara konsisten dari hari ke hari maka otomatis perilaku anak akan terkontrol dengan sendirinya.