Eksekusi penggal. Ilustrasi

TIMURNEWS.COM – Arab Saudi dilaporkan telah memenggal kepala 37 orang warganya atas tuduhan kejahatan yang berhubungan dengan terorisme.

Eksekusi massal yang dilakukan sehari tersebut, salah satu diantaranya kepala dan jasadnya digantung di sebuah tiang sebagai peringatan untuk yang lain.

Diperkirakan eksekusi ini, akan semakin meningkatkan ketegangan sektarian dan regional antara Arab Saudi dan Iran.

Seorang pembangkang Saudi Ali al-Ahmed, yang mengelola badan bernama Gulf Institute di Washington mengatakan bahwa 34 orang yang dipenggal adalah penganut Shiah berdasarkan nama-nama yang diumumkan oleh Departemen Dalam Negeri Saudi.

“Ini adalah eksekusi terbesar terhadap kelompok Shiah dalam sejarah Saudi,” kata al-Ahmed.

Lembaga HAM Amnesty International juga mengukuhkan bahwa mayoritas yang dieksekusi adalah pria dari kelompok Shiah.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa mereka dinyatakan bersalah setelah berlangsung ‘pengadilan yang tidak benar’ karena pengakuan saksi dan terdakwa didapat lewat cara penyiksaan.

Ini adalah eksekusi terbesar yang dilakukan dalam waktu satu hari di Arab Saudi sejak 2 Januari 2016.

Ketika itu, Saudi mengeksekusi 47 orang juga dalam kasus berkenaan dengan terorisme, dalam eksekusi terbesar yang pernah dilakukan oleh pihak berwenang Saudi sejak tahun 1980.

Diantara mereka yang dieksekusi tiga tahun lalu tersebut adalah empat warga Shiah, termasuk ulama Shiah ternama Nimr al-Nimr.

Kematian al-Nimr menimbulkan gelombang protes mulai dari Pakistan sampai ke Iran, dan juga penyerbuan terhadap kedutaan Saudi di Teheran.

Sejak itu hubungan Saudi-Iran memburuk dan sampai sekarang kedutaan Saudi di Teheran masih tutup.

Raja Saudi Salman sudah memberikan persetujuan terhadap eksekusi massal hari Selasa dan juga eksekusi di tahun 2016.

Raja Salman (kanan) sudah memberikan dukungan resmi kerajaan atas keputusan melakukan eksekusi. (Saudi Royal Court: Bandar Algaloud)

Ali al-Ahmed dari Gulf Institute di Washington mengatakan tindakan eksekusi hari Selasa ini tampaknya dilakukan untuk menyampaikan pesan politik kepada Iran.

“Mereka tidak perlu melakukan eksekusi terhadap orang-orang ini, namun ini dilakukan di tengah gelombang tekanan Amerika terhadap Iran.” katanya.

Pernyataan dari Kementerian Dalam Negeri Saudi menyebutkan bahwa mereka yang dieksekusi menganut ideologi ekstrim dan membentuk sel teroris dengan tujuan menyebabkan kekacauan dan memprovokasi ketegangan sektarian.

Disebutkan juga mereka yang dinyatakan bersalah telah melakukan serangan terhadap fasilitas keamanan dan menewaskan petugas, dan juga bekerja sama dengan organisasi musuh melawan kepentingan negara.

Pernyataan itu tidak menyebutkan dimana saja eksekusi tersebut dilakukan.

Amnesty International mengatakan 11 dari 37 orang yang dieksekusi dinyatakan bersalah menjadi mata-mata untuk Iran, dan dihukum mati setelah ‘peradilan yang tidak berlangsung adil’.

Sekurangnya 14 orang dieksekusi karena tindak kekerasan ketika mereka ikut dalam unjuk rasa anti pemerintah di kawasan penduduk yang sebagian besar Shiah di Arab Saudi di tahun 2011 dan 2012.

Menurut pengumuman resmi pemerintah, sejak awal tahun 2019, sudah hampir 100 orang dieksekusi mati di sana. (Sesumber)