MAKASSAR, TimurNEWS.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar yang bertugas sebagai penerima aspirasi Jumat (10/10) berang melihat kondisi di ruang aspirasi. Kursi-kursi yang tadinya berjumlah 25 biji, kini tinggal empat. Akibatnya mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Koalisi Aktivis Penyelamat Aset Daerah Makassar yang datang menyampaikan aspirasi duduk diatas meja.

Empat Anggota Dewan yang menrima aspirasi mahasiswa yakni, Susuman Halim dari Fraksi Demkorat, Indira Mulyasari dari Fraksi Nasdem, Andi Vivin Sukmawati dari fraksi PDIP dan Andi Norman dari fraksi Golkar, terpaksa harus berdiri.

Tak ada kursi mahasiwa duduk diatas meja saat menyampaikan aspirasi di DPRD Kota Makassar
Tak ada kursi mahasiwa duduk diatas meja saat menyampaikan aspirasi di DPRD Kota Makassar

“Saya heran di DPRD ini, kenapa sampai sekarang kursi belum juga ada, padahal sudah berkali-kali kita sampaikan, demontrasi juga hampir tiap minggu datang ke sini tetapi Sekretariat belum juga menyediakan,” kata Susuman Halim.

Menurut Susuman Halim Sekretaris Dewan (Sekwan) tidak becus dalam menyikapi keluhan-keluhan dari anggota dewan maupun dari masyarakat, seandainya dia tanggap melihat situasi, pasti kursi-kursi yang hilang di ruangan tersebut sudah diganti.
Hal senada juga diungkapkan Andi Norman, pihaknya mendesak Sekwan agar segera melengkapi fasilitas di ruang aspirasi pasalnya, ruang yang terletak di samping kanan gedung DPRD Makassar tersebut hampir setiap hari didatangi masyarakat dan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya.

“Terus terang saya merasa tidak nyaman menerima kalian di tempat ini, kami berdiri dan Anda duduk diatas meja. Tetapi kami bisa memaklumi sebab kondisinya sudah seperti ini, tapi kami akan usahakan agar secepatnya Sekwan sediakan kursi di ruang ini,” tegasnya.

Jenderal Lapangan Koalisi aktivis penyelamat aset daerah Kota Makassar Jabal mengatakan, dia dan rekan-rekannya merasa kecewa dengan anggota dewan. Sebab kedatangannya disambut dengan kondisi yang tidak menyenangkan, tidak disediakan air minum dan  tidak disediakan tempat duduk. Sebagian mahasiswa duduk di atas meja dan di lantai, sehingga merasa tidak nyaman dalam menyampaikan aspirasi.
“Saya kecewa pak, datang ke rumah rakyat tetapi diterima dalam kondisi seperti ini,” jelasnya. | Andi Amriani