Penari berkurang, Tari Merak hilang?
DEYANA SARASWATI

Penulis : DEYANA SARASWATI

(MAHASISWA UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA YOGYAKARTA)

Beberapa tahun sebelumnya sempat menjadi buah bibir bahwa kebudayaan dan kesenian bahkan alat-alat asal dari daerah Indonesia mulai berkurang karena hilang dan mulai diakui kepunyaan Negara lain.  Begitu juga akan dialami oleh Tari Merak apabila kita tidak ikut serta dan sadar untuk melestarikannya, Tari yang mengekspresikan kehidupan  binatang merak yang berasal dari dari bumi Pasundan ketika pada tahun 1950an ini juga mempunyai kesempatan untuk kita hidupkan kembali.

Tata cara dan gerak Tari Merak pun diambil dari kehidupan merak yang diangkat ke pentas oleh Seniman Sunda Raden Tjetje Somantri. Terpuruklah Negara ini apabila kesenian yang menjadi karakteristik bahkan malah hilang direbut dan diakui secara tidak hormat oleh Negara lain.

Bagaimana dengan penduduk yang berkisaran lebih dari ratusan juta jiwa ini? Berkurangnya minat melestarikan Tari Tradisional inilah yang membuat penari berkurang yang berdampak hilangnya kesenian dan kebudayaan di Indonesia.

Padahal corak dan bulu-bulu burung merak sangatlah indah sehingga membuat orang yang melihatpun pasti akan jatuh cinta. Namun kedatangannya globalisasi membuat corak dan bulu merak yang nan indah membuat para remaja bahkan anak-anak tidak ‘melihat’nya. Eksistensi Tari Merak sudahlah sangat tergeser, nilai kebudayaan Tari Merak tergeserkan oleh adanya kebudayaan gengsi dan lebih pengenalannya tari-tari modern.

Ada yang perlu kalian ketahui, pada kenyataanya tari modern merupakan perkembangan dari tarian tradisional. Tari Tradisional merupakan tari yang dibuat dan disepakati dalam kurun waktu yang lama dan mempunyai aturan-aturan tertentu yang juga pula mempunyai khas kekentalan daerah masing-masing. Namun pada tarian modern mempunyai aturan yang bersebrangan dengan tari tradisional tersebut sehingga tari modern tidak terikat pada aturan-aturan tertentu.

Maka remaja menganggap Tari Tradisional kuno bahkan norak. Tidak heran apabila jati diri cinta bangsa pun mulai hilang. Ibarat “Tidak menanam tapi ikut mengunduh” artinya remaja-remaja saat ini sudah sangat enak karena Tari Merak bukan dari mereka sendiri yang menciptakan namun sudah lahir saat zamannya nenek moyang yang diturunkan ke generasi berikutnya.

Namun mereka ikut mengakui dan ikut berontak apabila keseniannya diakui oleh Negara lain padahal untuk meneruskan, melestarikan dan menjaganya pun mereka pun malu dan selalu menjunjungkan gengsi. Jika bukan kita yang meneruskan, lalu siapa lagi? Budaya bangsa yang luntur dan rapuh harus kita kembalikan bangsa kita ini menjadi sirna. Untuk mengembalikan kebudayaan bangsa kita yang luntur tentunya diperlukan kesadaran masyarakat terutama para remaja.

Sehingga perlu kita ubah cara berfikir anak bangsa Indonesia saat ini, dengan mulai memperkenalkan kepada anak-anak remaja saat ini bahwa mereka mempunyai kewajiban yaitu melestarikannya dan memperdalami tar-tari daerah pula jangan hanya mengenal tarian-tarian korea dan

goyang-goyang yang tidak mempunyai nilai budaya pada bangsa ini sendiri. Perlu kita dalami pula bahwa budaya kesenian dari negeri kita tidak ada harganya, maka kita kembalikan lagi Negara kita sebagai warga bangsa yang warganya menghargai kebudayaan bangsanya sendiri.

Jika sudah memperdalaminya diperlukan pula kita untuk mempelajari dan lalu mengenalkan kesenian tari di beberapa daerah, mungkin mulai dari

antar kota, antar provinsi, antar pulau bahkan hingga antar dunia. Sehingga orang dari berbagai manca Negara pun ikut senang dan bangga pada bangsa kita ini dan mengerti bahwa Tari Merak adalah tarian yang berasal dari Negara Indonesia yang selalu kita jaga bahkan kita lestarikan dan kita turunkan hingga generasi-generasi kita berikutnya, tentunya bukan hanya Tari Merak saja namun pada tari-tarian yang lainnya pula. Maka tidak mungkinlah pula jika kesenian-kesenian tari kita di rebut dan di akui oleh bangsa lain sehingga tidak ada perdebatan antar dunia kembali dan tidak mengguncangkan perbedebatan antar Negara tetangga pula.

Di era globalisasi yang selalu akan bekembang sangat pesat ini bukannya tidak boleh bangsa kita ikut atau mendorong penyempurnaan perkembangan tersebut namun yang perlu ditekan kan disini mengikuti perkembangan dengan tidak menggeserkan budaya dari bangsa sendiri. Jadi, dapat dikatakan perkembangan teknologi, perkembangan yang universal ini sejajar dengan pengetahuan konsep budaya kesenian daerah kita ini.

Menumbuhkan kesadaran anak bangsa bisa melalui dengan pendidikan tari yang berkonsep hiburan, workshop tentang tari tradisional, pementasan dan festival tari-tari tradisional antar daerah. Festival tersebut juga dijadikan alternative untuk membentuk karakter cinta tanah air

sehingga bisa di fungsikan dengan baik dan bisa memanfaatkannya untuk sumber hiburan masyarakat daerah bahkan untuk wisatawan-wisatawan dari mancanegara maka berpengaruh juga pada pemasukan Negara, kebanggaan pada diri sendiri, masyarakat, bahkan sesama bangsa Indonesia. Jika bukan dari diri kita masyarakat muda, siapa lagi? (*)