DAMPAK MEDIA SOSIAL TERHADAP PSIKIS DAN KESEHATAN
Andi Antoro

OLEH : Andi Antoro

(Mahasiswa Semester 3)

Pada zaman globalisasi saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat dalam kehidupan sehari-hari. Hampir semua aktivitas di seluruh elemen masyarakat baik itu di dalam dunia karrier, bisnis, pendidikan, sosial menggunakan teknologi untuk membantu dalam menjalankan aktivitas tersebut. Salah satunya adalah media sosial yang merupakan layanan dalam bidang teknologi yang dapat membantu kegiatan  masyarakat dalam bersosialisasi.

Namun dibalik kemudahan dan kecanggihan teknologi  banyak juga pengaruh positif dan negativenya bagi kita.Misalnya saja para pengguna gadget biasanya menggunakan gadget lebih dari 7 jam per hari. Banyak penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan media social yang berlebihan memiliki pengaruh buruk dari segi kesehatan, psikologi, spiritual, pendidikan dan lain-lain.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang pengaruh negative media social bagi psikis manusia. Seringkali pengguna media social melihat bagaimana kehidupan orang lain di media sosial. Melihat kehidupan orang lain yang lebih sukses dan sempurna membuat diri sendiri merasa lemah dan tidak mampu. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat mempengaruhi alam bawah sadar menjadi pribadi yang tidak percaya diri.
Aktif menggunakan media social membentuk karakter seseorang menjadi tidak peduli dengan lingkungan sekitar karena pada saat pengguna sedang asyik “di dunia maya” dia cenderung mengabaikan interaksi di kehidupan nyata. Akibatnya dapat merusak hubungan dengan orang-orang di sekitar karena merasa kurang dihargai atau diabaikan.

Orang juga sering merepresentasikan dirinya sebagai seseorang yang sempurna bukan merepresentasikan sebagai dirinya sendiri di media social. Hal ini biasanya dipicu karena gengsi sehingga orang tersebut akan meninggikan gambaran dirinya walaupun pada kenyataannya berbeda. Seseorang yang merasa lebih nyaman untuk berinteraksi di media sosial cenderung pasif, gelisah, dan pendiam dalam kehidupan nyata.

Dunia maya seperti facebook, twitter, instagram, BBM dan lain-lain menjadi suatu hal yang sangat familiar di kalangan masyarakat. Terutama para kaum remaja yang sedang tergila-gila dengan media sosial ini. Berbagai media sosial ini biasanya digunakan untuk mencurahkan isi hati baik itu senang, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Karena hal inilah banyak sekali kasus kenakalan remaja yang berawal dari sosial media.Misalnya ketika seorang anak sedang merasa marah atau benci kepada temannya ia akan mengupdate status dengan menggunakan kata-kata yang bisa dibilang tidak pantas dan kotor. Maka secara  tidak langsung  anak tersebut telah melakukan pelecehan verbal.

Hal ini sering kali akan  memicu adanya perkelahian komentar dalam sosmed. Media sosial sering digunakan oleh para remaja sebagai ajang penyindiran/olok-olokan terhadap teman karena adanya rasa takut, minder dan kurang percaya diri ketika mereka  berkomunikasi langsung  antar pihak yang bersangkutan.Selain itu juga sosmed  dapat mempengaruhi proses pembentukan karakter dan kepribadian anak jika salah dalam penggunaannya.

Seakan-akan media social saat ini  menjadi suatu zat aditif yang dapat membuat seseorang menjadi kecanduan. Seseorang yang telah kecanduan gadget disebut nomophobia. Jenis penyakit ini adalah dimana seseorang akan gelisah dan cemas apabila dia tidak memegang atau sekedar memeriksa handphone-nya walaupun hanya 5 menit. Penelitian yang dilakukan tim dari Rutgers University menyebutkan bahwa untuk menyembuhkan pecandu smartphone, terapi yang digunakan sama seperti terapi untuk pecandu narkoba.

Penggunaan media social yang berlebihan juga dapat mengurangi prestasi belajar pada anak dan menurunkan produktivitas kerja karena konsentrasi yang terpecah antara pekerjaan dan penggunaan smartphone. Sehingga otak yang tidak dapat bekerja secara multitasking di paksa untuk melakukan pekerjaan berganda menyebabkan pekerjaan atau hasil belajar tidak memuaskan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan banyak dampak buruk media social yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh kita. Seseorang yang aktif di media social tidak lepas dari penggunaan handphone yang berlebihan menyebabkan meningkatnya resiko kanker otak. WHO menyatakan bahwa resiko remaja terkena kanker otak yang disebabkan oleh penggunaan smartphone lebih besar dibandingkan pada orang tua, karena gaya hidup remaja yang lebih sering kontak langsung sehingga lebih sering terkena radiasi dari smartphone tersebut. Kebiasaan menaruh smartphone pada saku dapat meningkatkan resiko penyakit kanker payudara pada wanita.

Mata yang terlalu lama melihat layar smartphone dapat mengakibatkan penglihatan terganggu. Gangguan pengelihatan ini disebut Computer Vision Syndrome (CVS) dengan gejala mata kering karena jarang berkedip. Mata yang jarang berkedip juga menyebabkan otot mata menjadi tegang sehingga pandangan menjadi kabur (blurry vision).

Sebaiknya setelah menggunakan smartphone yang begitu lama pejamkan mata selama 10 detik sebelum memandang ke arah yang berbeda. Radiasi elektromagnetik pada smartphone dapat memicu meningkatnya produksi hormone stress kortisol pada tubuh pada penggunaan smartphone yang terlalu lama. Akibatnya membuat seseorang menjadi lebih mudah stress dan depresi.

Akibat otot mata yang tegang dan posisi leher yang selalu melihat ke layar smartphone menyebabkan sakit kepala, dan kelainan postur tubuh. Untuk meminimalisir resiko tersebut dapat dikurangi dengan istirahat yang cukup, kurangi penggunaan smartphone, jangan membungkuk saat menggunakan smartphone, dan memberi jarak mata dengan layar smartphone setidaknya 20 cm Terlalu sering aktif di media social juga menyebabkan kualitas tidur terganggu.

Istirahat yang kurang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit. Untuk itu lebih baik mematikan smartphone sebelum tidur dan jauhkan smartphone saat tidur untuk mengurangi radiasinya. Rasa nyeri dan kesemutan pada jari disebut Carpal Tunnel Syndrome. Penyakit ini timbul karena terlalu sering chatting sebagai reaksi dari iritasi saraf median di pergelangan tangan. Penggunaan media social selama berjam-jam dapat mengurangi daya ingat manusia.

Paparan radiasi dari ponsel menyebabkan ingatan kita menjadi terganggu. Sebuah penelitian dari Northwestern University di Chicago menyatakan bahwa penggunaan smartphone pada jam tidur bisa menyebabkan obesitas. Hal ini dapat terjadi karena adanya paparan sinar biru dari smartphone yang dapat meningkatkan hormone ghrelin yang berfungsi memberi sinyal lapar pada tubuh.

Untuk mengurangi dampak negative dari media sosial baik dari sisi psikologi maupun kesehatan ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Apabila pengguna media social terlalu asyik dengan “dunia maya” maka mulailah untuk memperhatikan lingkungan sekitar dan ubahlah kebiasaan bersosialisasi di dunia maya menjadi bersosialisasi di dunia nyata. Kurangi penggunaan gadget dan lakukanlah interaksi dengan orang lain.
Penggunaan media social dapat menyebabkan kecanduan, maka kurangi sedikit demi sedikit penggunaan smartphone. Alihkan perhatian dengan mengisi hal-hal yang lebih bermanfaat. Kenalilah waktu dan tempat sehingga dapat menggunakan smartphone dengan bijaksana. Hindari membuang waktu berjam-jam hanya untuk mengoperasikan smartphone dan gunakanlah smartphone dengan tujuan yang penting saja.

Tetapkan batas waktu maksimal penggunaan smartphone untuk menghindari kecanduan smartphone. Tinggalkan smartphone anda dan mulailah untuk berolahraga. Selain membuat tubuh kita sehat, olahraga dapat membuat perasaan kita menjadi senang dan melepaskan hormone stress dan depresi yang mungkin dapat terjadi karena penggunaan smartphone yang berlebihan.

Mengubah kebiasaan menaruh handphone pada saku baju/celana dengan menyimpan smartphone ke dalam tas. Hal ini untuk menurunkan adanya resiko kanker payudara dan menghindari penyakit reproduksi yang disebabkan karena paparan radiasi dari smartphone. Untuk menghindari paparan radiasi dari handphone lebih baik matikan handphone sebelum tidur dan jauhkan handphone dari tempat tidur. Hal ini dilakukan agar kita dapat sepenuhnya beristirahat setelah lelah menjalankan aktivitas seharian karena saat beristirahat tubuh akan mengumpulkan energy kembali untuk memulai aktivitas di keesokan harinya. (*)