MAKASSAR, TIMURNEWS – Salah satu pelaku penculikan balita Raihanun Mailika Umar (Hanun) di Kompleks IKIP Blok F2 Nomor 12, Yusfikar(34) terancam diberhentikan dari statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara(ASN) di DPRD Kabupaten Barru. Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, perbuatan Yusfikar bersama tiga orang rekannya terancam hukuman pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 38 junto, pasal 76 Undang-undang(UU) nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

“Ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun atau denda sebesar 60 juta rupiah. Atau terancam hukuman Pasal 328 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama 12 tahun,” ungkap Dicky, Kamis (11/1).

Wakil Direktur (Wadir) Komite Pemantau legislatif (Kopel) Sulsel, Herman mengatakan, jika pelaku terbukti bersalah oleh keputusan hakim di pengadilan, maka Yusfikar bisa terancam diberhentikam secara tidak hormat dari satusnya sebagai PNS.

Ia merujuk pada ketentuan yang tercantum dalam pasal 250 ayat d, Peraturan Pemerintah (PP) nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, dimana kata dia, seorang PNS dapat diberhentikan dengan tidak hormat sebagai pegawai negeri sipil karena dihukum penjara.

“Dipidana dengan pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan hukuman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan pidana yang dilakukan dengan berencana,” kata Herman mengutip aturan tersebut.

Selain itu lanjutnya, pada pasal 251 ayat a ketentuan itu juga disebutkan bahwa, PNS yang dipidana dengan pidana penjara kurang dari 2 (dua) tahun berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana dengan berencana, diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS.

Sebelumnya, diberitakan, anak balita dari Umar, salah satu pegawai di Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel dan Fatma, pegawai bank di Makassar di culik oleh orang tak dikenal (OTK) dikediamannya, Jalan Pendidikan, Kompleks IKIP Blok F2 No 12, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini Kota Makassar, Selasa (9/1).

Sekitar sepuluh jam kemudian bocah korban penculikan itu ditemukan oleh seorang ibu bernama Merry (47) di pinggiran Jalan Telkomas, sekitar pukul 17.30 wita. “Saat itu ibu Mery melihat anak itu dalam kondisi menangis sendirian di taman Telkomas, sehingga ia pun mengambil anak itu,dan menyerahkan ke Polsek Tamalanrea,” ujar Dicky di Polsek Tamalanrea berapa waktu yang lalu.

Setelahnya keempat pelaku penculikan itu juga berhasil diamankan oleh tim gabungan Polda Sulsel di beberapa tempat berbeda. Yusfikar (34) diamankan di rumahnya, Kelurahan Tuwung Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Risal (28) di Jalan poros Makassar-Pangkep, Anwar di tangkap di Kota Pare-Pare sedangkan pelaku perempuan, Ayu Yuliasri di Perumahan Telkomas Kota Makassar.

Dicky menjelaskan, otak dari penculikan ini adalah Yusfikar, paman korban sendiri, motif pelaku adalah faktor sakit hati kepada ayah korban, sebab setiap kali pelaku dan keluarganya berkunjung kerumah korban, Umar ayah korban terkesan tak mempedulikan mereka.

“Pelaku rencanaya akan meminta tebusan uang kepada orang tua korban sebesar 2 hingga 3 miliar rupiah, yang nantinya uang tebusan tersebut akan dibagi rata kepada masing-masing pelaku,” jelasnya. (*)