Istilah-Istilah Produk Mengandung Unsur Babi
Istilah-Istilah Produk Mengandung Unsur Babi

TIMUR NEWS – Laporan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), menyatakan terdapat kandungan babi dalam suplemen Viostin DS dan obat Enzyplex. Sehingga itu konsumen dari kalangan Muslim diminta kewaspadaannya terhadap produk yang mengandung babi. Karena belum semua produk bersertifikat halal.

Kasus Viostin DS dan Enzyplex menegaskan pentingnya sertifikasi halal. Kedua produk itu diketahui belum tersertifikasi halal oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Adapun istilah-istilah yang berhubungan dengan babi, antara lain, pig, pork, ham, bacon, dan swine. Kemudian, bahan-bahan yang bisa berasal dari babi, di antaranya, lemak (lard), asam lemak (fatty acid), gliserin (glycerin), dan gliserol (glycerol).

Direktur Halal Research Centre (HRC) dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Nanung Danar Dono, meminta konsumen harus waspada karena deoxyribose-nucleic acid (DNA) babi bisa memasuki berbagai jenis produk.

Oleh karena itu, Nanung mengajak konsumen yang hendak membeli suatu produk untuk mengecek keberadaan label atau logo halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Ini karena belum semua produk bersertifikat halal,” ujarnya di Jakarta, Kamis (1/2).

Nanung memerinci, istilah-istilah yang berhubungan dengan babi, antara lain, pig, pork, ham, bacon, dan swine. Kemudian, bahan-bahan yang bisa berasal dari babi, di antaranya, lemak (lard), asam lemak (fatty acid), gliserin (glycerin), dan gliserol (glycerol).

Kepala Laboratorium Halal Center Universitas Indonesia, Amarila Malik, menyatakan, konsumen harus cerdas dalam memakai sebuah produk, apakah layak dikonsumsi atau tidak. Sebab, pelabelan merupakan penjaminan suatu produk yang dikonsumsi.

Menurut Amarila, dalam memperoleh nomor registrasi Badan POM, diharuskan pula pencantuman dengan jelas label mengandung babi jika memang ada di dalam suatu produk. Setidaknya, langkah ini untuk menyosialisasikan wajib sertifikasi halal pada 2019 seperti amanat UU Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH).

“Jaminan kehalalan produk yang dikonsumsi atau digunakan mendapat kepastian. Masyarakat menjadi aman dan nyaman,” kata Amarila di Jakarta, kemarin.

Dia mengharapkan, hal ini menjadi pelajaran berharga bagi semua perusahaan. Perusahaan yang memproduksi barang-barang konsumsi diminta melaksanakan sertifikasi halal supaya masyarakat tidak khawatir.

Badan POM merilis siaran pers tentang viralnya surat internal hasil pengujian sampel suplemen makanan, Selasa (30/1). Surat yang dimaksud adalah surat dari Balai Besar POM di Mataram (Nusa Tenggara Barat) kepada Balai POM di Palangka Raya (Kalimantan Tengah).

Mengutip siaran pers dari Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat, Badan POM menjelaskan, sampel produk yang tertera dalam surat adalah Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dengan nomor izin edar (NIE) POM SD.051523771 nomor bets BN C6K994H dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan NIE DBL7214704016A1 nomor bets 16185101.

“Berdasarkan hasil pengawasan terhadap produk yang beredar di pasaran (post-market vigilance) melalui pengambilan contoh dan pengujian terhadap parameter DNA babi, ditemukan bahwa produk di atas terbukti positif mengandung DNA babi,” tulis Badan POM. Apabila suatu produk mengandung DNA babi, secara otomatis produk itu mengandung babi atau unsur babi.

Badan POM telah menginstruksikan PT Pharos Indonesia dan PT Medifarma Laboratories untuk menghentikan produksi dan/atau distribusi produk dengan nomor bets tersebut. Kedua perseroan memastikan, telah menarik seluruh produk dengan NIE dan nomor bets itu dari pasaran serta menghentikan produksi. (*)